Tampilkan postingan dengan label Documentary Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Documentary Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2008

"DUA PEREMPUAN": KISAH KEPERKASAAAN DUA MAESTRO


Aksi barongsai dan liong di sebuah vihara di Pasar Lama Tangerang membuka film dokumenter dua PEREMPUAN”, yang berkisah tentang dua orang perempuan – Masnah dan Rasinah. Masnah (Pang Tjin Nio) adalah maestro kesenian gambang kromong, yang sejak remaja hingga usia senjanya mengabdikan diri pada dunia panggung. Saat ini, hanya Masnah yang sanggup menyanyikan lagu-lagu gambang kromong klasik. Sedangkan Rasinah adalah maestro tari topeng, yang sejak kanak-kanak hingga usia uzurnya tetap setia pada kesenian tradisonal tersebut.

Establish shot dimulai dari aktivitas perahu eretan (perahu untuk menyeberangkan warga di dua tempat yang dipisahkan sungai) di atas Sungai Cisadane. Sungai besar itu memang melintasi Kota Tangerang – tempat bermukim sebagian besar warga Cina Benteng. Termasuk, Masnah.

Siang itu, Masnah keluar dari rumahnya menuju sebuah tempat hajatan. Rencananya, ia memang bakal menyanyi di tempat itu selama dua malam berturut-turut. Warga Cina Benteng memang memiliki kebiasaan menggelar hajat demikian lama. Dan sudah pasti menghadirkan kesenian gambang kromong.

Perjalanan Masnah dari rumah menuju lokasi hajatan menjadi “pengantar”, untuk memperkenalkan karakter pertama film ini. Ia bertutur soal waktu dan alasannya melibatkan diri dalam kesenian itu. Persisnya, dimulai sejak suami dan anaknya meninggal. “Kalo nggak terjun ke seni bisa-bisa senewen!” katanya.

Di tempat pesta, para panjak (pemain gambang kromong) dan para cokek (penari) juga sudah berdatangan. Selain menata kebutuhan pementasan, kita juga akan menyaksikan suasana makan siang anak-anak panggung tersebut, canda-canda khas cokek, dan ritual sederhana di belakang panggung. Meski diakui sebagai budaya Cina Keturunan, prosesi upacara tetap saja bernuansakan Islam yang sinkrestisme. Karena, mereka masih menggunakan suguihan, dupa, dam menyan!

Beberapa saat kemudian, sebuah lagu sayur (popular) “Jali-jali Ujung Jalan” meluncur dari mulut Masnah. Beberapa cokek menemani tamunya ngibing. Sementara sejumlah cokek lain sibuk berdandan. Maklum, malam nanti mereka harus tampil secantik mungkin.

Jauh di Desa Pekadangan, Indramayu, Jawa Barat, Rasinah bersama cucu dan muridnya, Aerli dan Andhika, meninggalkan rumah menuju mobil. Mereka bergerak menuju sebuah lokasi hajatan. Di atas mobil, Rasinah bercerita kepada putrinya, Wacih, soal aksi-aksi panggungnya di luar negeri. Sebagai seniman tradisional, Rasinah beruntung bisa menari di mancanegara. Sehingga, ia dianggap memiliki pengalaman lebih dibandingkan penari-penari topeng lain. Namun, ia tetap rendah hati, untuk tetap menari di panggung-panggung kampung.

Di lokasi hajatan, Mimi Wangi tengah melenggokkan Tari Gandurung. Sesaat kemudian, Rasinah dan rombongan tiba di lokasi. Mereka pun langsung berganti kostum. Dan, kita akan menyaksikan aksi Rasinah dengan tari topeng yang sacral, “Tari Panji”. Biasanya, hanya penari senior atau yang dianggap mumpuni, yang dipilih untuk menghidangkan tarian tersebut. Selain bentuk penghormatan, hal itu pun ditujukan untuk memperlihatkan keagungan filosofi tarian itu sendiri. Mereka percaya, tari topeng diwariskan oleh Sunan Kali Jaga (salah satu Wali Sanga) untuk menyiarkan Islam. Karena itu, nilai dan kesucian pesan-pesannya harus dipelihara.

Scene by scene film akan terus berpindah dari cerita Masnah ke cerita Rasinah. Begitu seterusnya. Sehingga, kita memang diminta menyimak kisah dua perempuan (seniman tradisional dan setingkat maestro) di hari-hari senja. Entah berbagai kegiatan mereka di panggung, suasana khas kesenian itu sendiri di hadapan umum, kegiatan para karakter di rumah, dan tentu saja, penuturan demi penuturan tentang masa lalu, masa sekarang, dan keinginan di depan, kedua karakter. Kekuatan informasi atau penceritaan memang bertumpu pada penuturan kedua karakter. Film dokumenter ini memang tidak menggunakan narasi. Sehingga, kita akan mendapati suara asli para karakter dengan logat, ketidakteraturan berbahasa, keluguan, dan juga kejujuran. Orisinal, jadinya.

Bahkan, bisa dikatakan, suguhan gambar menjadi menu utama, untuk dicermati, dipahami, dan diresapi, jalinan cerita dan pesan-pesan yang dikandungnya. Dampaknya, bisa jadi, akan menghadirkan multi-tafsir. Tapi, itulah film dokumenter!
Melalui karakter Masnah, film ini memberikan gambaran tentang keberadaan komunitas Cina Benteng (komunitas cina keturunan yang bermukim di pinggiran kota Jakarta), produk kebudayaan yang dilahirkan dari sebuah proses pembauran – bernama kesenian gambang kromong dengan para cokeknya, dan perjuangan keras seorang perempuan dengan segala kemampuannya.

Bicara tentang Komunitas Cina Benteng, maka kita akan dihadapkan pada persoalan ras yang “tidak jelas” (Cina bukan dan pribumi pun bukan), masyarakat yang terpinggirkan, dan komunitas yang tetap saja sulit memperjuangkan masa depannya. Sedangkan cerita tentang kesenian gambang kromong adalah pembuktian tentang betapa kuatnya penetrasi budaya Cina tempo dulu terhadap budaya lokal. Sehingga, ia akan selalu menjadi ikon keberadaan ras Cina di negeri kita.

Seiring dengan terdengarnya reportoar klasik “Pobin Khong Ji Lok”, sebenarnya kita tengah dihidangkan makna simbolik tentang peran kesenian gambang kromong. Karena, kesenian itu merupakan tampilan “superior” kaum pendatang di masa silam terhadap warga pribumi melalui simbol cokek (penari gambang kromong). Di pekalangan (arena hajatan), sang tamu (warga Cina Benteng) bisa berbuat sekehendak hatinya terhadap cokeknya (yang biasanya warga pribumi), bila ia telah memiliki cukin (kain) sang cokek. Termasuk, pelecehan seksual.

Perjalanan waktu, akhirnya menghadirkan banyak perubahan dalam tampilan dan makna-maknanya. Bila tempo dulu, para cokek menjadi simbol “superioritas” warga Cina (di zaman pemerintahan Hindia Belanda tergolong warga kelas dua) atas warga pribumi, sedangkan sekarang menjadi hubungan dagang. Sang cokek membutuhkan uang, maka ia bersedia menemani tamunya menari dan diperlakukan apa saja. Bila dulu kesenian gambang kromong menghadirkan lagu-lagu klasik (yang memperlihatkan keunikan khas Cina), maka kini lebih banyak menghadirkan lagu-lagu sayur (popular). Tujuannya memang telah bergeser, sekedar memberikan hiburan.

Dalam posisi seperti itu, Masnah menjadi bagian yang cukup penting untuk memberikan gambaran keberadaan Komunitas Cina Benteng di masa sekarang, pergeseran fungsi kesenian gambang kromong dan para cokeknya, dan perjuangan warga kelas pinggiran untuk mempertahankan identitas dan kehidupannya. Masnah atau Pang Tjin Nio menjadi karakter, karena ia perempuan tangguh dan legenda yang terus memperjuangkan pembumian warga keturunan di negeri ini.


Sekitar 300 kilometer dari kediaman Masnah, kita juga bisa menjumpai maestro Tari Topeng Indramayu bernama Rasinah di Desa Pekandangan, Kabupaten In
dramayu, Jawa Barat. Umurnya mendekati 80 tahun. Tapi, ia masih rajin membagikan ilmu menarinya kepada siapa pun. Bahkan, ia masih terus memenuhi panggilan menari di panggung-panggung hajatan. Kerap, ia turun panggung untuk meminta saweran (tips) kepada penonton.

Rasinah menjadi karakter pada bagian lain film dokumenter dua PEREMPUAN” ini, untuk memberikan gambaran perjuangan perempuan, nasib kelabu para seniman tradisional, dan perjalanan akhir sang maestro. Rasinah adalah perempuan tangguh yang sejak kanak-kanak mengalami tempaan hebat, untuk mencintai tari topeng. Kesungguhan itu diperlihatkan dengan syarat-syarat yang sebenarnya tidak masuk di akal. Misal, ia harus mutih (berpuasa dan tidak memakanan makanan memiliki rasa selama beberapa hari) atau nguler (berpuasa dan hanya memakan daun-daunan), dan sebagainya.

Pada saatnya, ia baru bisa “diamenkan” dari satu panggung ke panggung mengikuti jejak orangtuanya. Setelah menjadi penari, ia juga dhadapkan persoalan berat ketika orangtuanya meninggal. Sementara panggilan menari kian sepi. Akhirnya, ia pun jatuh dalam kemiskinan. Tapi, ia terus menari. Sampai keberuntungan pun berpihak dan membuatnya terkenal. Karena, ia kerap mendapat tugas sebagai duta seni, untuk menri di berbagai Negara.

Kisah Rasinah pada film dokumenter dua PEREMPUAN” memperlihatkan kedekatannya dengan Tari Topeng Indramayu, kesungguhannya untuk terus menari di panggung-panggung hajatan, keseriusannya untuk membagikan Tari Topenfg Indramayu kepada cucunya, dan penghormatannya pada para leluhur. Bukti kecintaan itu diperlihatkan Rasinah dengan kebiasaan berziarah di makam seniman di Desa Pekandangan, serta memperlihatkan aksi Tari Panji di tengah areal pemakaman.

Rasinah adalah contoh perempuan yang konsisten dengan jalan hidupnya, dan setia membangkitkan perjuangan untuk masa depan keluarganya. Sesungguhnya, ia tengah mengajarkan kita untuk mencintai apapun dengan ketulusan dan tanpa pernah berhenti.


Masnah dan Rasinah memiliki “kelas” di bidangnya masing-masing. Namun, keduanya memiliki kesamaan nasib di hari tuanya; papa, terpinggirkan, dan terus berjuang menikmati kehidupan itu sendiri.

Kabar terakhir, Rasinah kini tengah tergolek di tempat tidurnya akibat serangan stroke. Bahkan, ia harus me”lego” topeng-topeng yang pernah dipakainya (bisa jadi memiliki sejarah panjang) untuk menutupi biaya pengobatan. Dalam keadaan seperti itu, ia tetap berusaha mengajarkan tari topeng kepada murid-muridnya.

Luar biasa!

Pada dasarnya, dua PEREMPUAN” bukan hanya bertutur soal profil dua perempaun (maestro kesenian tradisional). Tapi, banyak pesan yang bisa digali dari kehidupan senja para lansia yang tetap produktif itu. Dan, kita bisa dengan leluasa memilah dan memilihnya. Entah sekedar ingin tahu atau mencoba dijadikan bekal untuk memotivasi diri.

Karena itu, gambar dengan keotentikan suasana dan elemen etnografinya dibiarkan mengalir. Film ini memang ingin memanjakan mata dan telinga kita dengan keaslian dan kejujuran suasana. Bila penafsiran yang muncul bertolak belakang dengan apa-apa yang dirancang oleh filmmakernya, tentu menjadi sangat lumrah. Karena, para pembuat filmnya sendiri justru membiarkan ruang-ruang penafsiran itu berkembang. Mereka berharap, dua PEREMPUAN” bukan sekadar kisah sedih di hari tua. Tapi, dapati mutiara-mutiara yang bisa digali di dalamnya.

Kalau saya mencatatnya sebagai “the spirit of women”. Entah dengan Anda.[]

"ATJEH LON SAYANG": SPIRIT YANG TAK PERNAH PADAM

Reruntuhan bangunan di Kawasan Ulee Lheu menghampat tanpa batas. Sejauh mata memandang hanya terlihat puing-puing, bendera merah-putih yang kusam, pohon-pohon yang tumbang, dan suasana miris lainnya. Inilah Nanggroe Aceh Darussalan, tiga bulan setelah tragedi tsunami terjadi.

Musibah tsunami di Aceh pada 26 Desember 2005 bisa jadi bencana terbesar di dunia selama abad ini. Paling tidak, bila hal ini dilihat dari jumlah korbannya yang mencapai 200.000 jiwa dan kerusakan fisik di banyak tempat. Adakah cerita lain yang diungkap paska bencana itu?

Maka, “ATJEH LON SAYANG”lah jawabannya.

Melalui karakter Tengku Reza Indria (seniman muda), kita akan disuguhkan rekaman dan penafsiran tentang musibah demi musibah yang terus saja menggelontor ke tanah Serambi Mekah. Reza mencatat, musibah itu dimulai dari perang-perang suku sebelum Belanda memecah-belah kesatuan warga Aceh. Setelah itu, di zaman Orde Baru, Aceh menjadi Daerah Operasi Militer (DOM), yang juga menguras air mata warga Aceh. Lepas dari DOM, kita dapati Aceh sebuah daerah konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah, hingga provinsi itu ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Klimaks bencana kemanusiaan itu, tentu saja, musibah tsunami 26 Desember 2005!

“Meskipun warga Aceh terus ditimpa kemalangan dan musibah terus-menerus, tapi mereka terus diberi ketabahan dan kekuatan. Inilah hebatnya orang Aceh,” papar Tengku Reza Indria.

Lepas dari Reza, kita akan mendapati seorang anak yatim korban tsunami bernama Munawar. Umurnya 12 tahun. Orangtuanya tewas digulung ombak tsunami. Lalu, ia dtampung di sebuah dayah (pesantren) asuhan Ustadz Tengku Abdul Razak.

Dari mulut Munawar, kita akan mendengar kembali penuturan peristiwa mengenaskan itu. Untuk melengkapi cerita Munawar, beruntung para filmmaker telah mendapat footage “cantik” yang mendekati kronologis yang dituturkan oleh Munawar.

“Beruntung teman-teman di Banda masih menyimpan rekaman gambar, yang belum dijual ke stasiun televisi. Sehingga, saya bisa mengolahnya untuk dipadukan dengan cerita yang belum utuh,” tutur Ratna S. Halim, produser eksekutif “ATJEH LON SAYANG”.

Menurut filmmakernya, film tersebut memang dibuat tanpa perencanaan. Ketika dua kru komunitas itu mendpat tugas ke Aceh untuk sebuah stasiun televisi, mereka hanya mengumpulkan gambar-gambar reruntuhan akibat tsunami. Bahkan, setelah dua kaset terisi penuh kedasyatan dampak bencana itu, mereka tetap belum menentukan premis atau film statementnya.

Rancangan cerita baru muncul, setelah mereka berbicara panjang dengan Tengku Reza Indria saat menggelar ubat atee dengan kelompok “Bangkit Aceh”nya. Perlahan-lahan ada pesan yang ingin dihadirkan, yang daya tahan dan kekuatan warga Aceh dengan segala masalahnya. Premis itu makin kuat, setelah filmmaker bertemu dengan Munawar dan gurunya, ustadz Tengku Abdul Razak.

Selain penuturan ketiga orang karakter; Tengku Reza Indria, Munawar, dan Tengku Abdul Razak, film ini juga menyuguhkan aktivitas ketiganya dengan dunianya masing-masing. Tengku Reza Indria dengan kelompok “Bangkit Aceh”nya, Munawar dengan kesehari-hariannya di dayah, dan juga aktivitas Tengku Abdul Razak di dayah.

Kekuatan utama “ATJEH LON SAYANG”, tentu saja, pada footage-footage yang dulu marak di hadapan televisi. Ketika di putar di layar Jiffest 2005, ada penonton yang mengkritisi filmmaker bahwa tampilan footage itu membuat “ATJEH LON SAYANG” jadi mirip berita. Tapi, saya sangat yakin, itulah harta karun yang akan bercerita di kemudian hari. Atau, ia juga tetap sangat menarik bagi orang yang tidak pernah melihat suasana bencana. Karena kebetulan, pengkritisi bermukim di Jakarta dan akrab dengan cerita-cerita seputar tsunami.

Namun, lepas dari kelemahan pada elemen-elemen cerita dan celah di sana-sini, film dokumenter ini layak mendapat perhatian bukan karena ide dan aktualitasnya. Tapi, keberanian menampilkan struktur cerita yang tak lazim; tiga kisah dengan kehidupannya masing-masing. Selang-seling jadinya. Tapi, kekayaan etnografi Aceh dengan nasyid dayah yang khas sekali, menjadi perekat yang ampuh. Sehingga, kita tidak terasa tengah dipindah-pindah dari satu bangunan ke bangunan lain.

Keberanian filmmaker untuk lepas dari pakem berita yang harus bernarasi, juga membuat kita jadi leluasa menikmati gambar dan suara. Sehingga, pada akhirnya, toh kita diberi keleluasaan pula untuk menafsirkannya. Memang gado-gado yang disuguhkan. Tapi, kita tetap berhak memilih bagian mana yang layak disantap. Karena itu. Kita pun bisa leluasa pula untuk meraih mutiara-mutiara yang berada di balik cerita.[]